GAMELAN


Siapa yang tidak mengenal gamelan? Alat musik tradisional ini identik dengan kekayaan budaya di Jawa, Bali, dan daerah-daerah sekitarnya. Padahal gamelan sebenarnya telah manjadi bagian dari budaya negara-negara di Asia, khususnya Asia Tenggara. Tidak hanya di Indonesia, gamelan juga dapat ditemui di negara-negara tetangga, mulai Malaysia, Thailand, Vietnam, sampai India. Tentunya dengan berbagai variasi bentuk dan nama yang berbeda.

Makanya sungguh tidak masuk akal ketika beberapa waktu yang lalu negara tetangga kita dengan berlagak bodoh (atau benar-benar bodoh ya?) mengklaim bahwa gamelan adalah warisan budaya milik mereka. Saat ini gamelan bisa dikatakan telah menjadi milik dunia. Banyak para budayawan dari negara-negara lain, bahkan Amerika dan Eropa yang mempelajarinya. Mereka bukan hanya sangat mahir memainkan gamelan, namun juga memboyong perangkat gamelan itu ke negeri mereka. Tetapi tampaknya mereka masih lebih pintar dari Malaysia dengan tidak mengklaim bahwa gamelan adalah warisan budaya milik Amerika / Eropa.

Di Indonesia, gamelan dapat ditemui di mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, bahkan suku Dayak di pedalaman Kalimantan. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Kenapa saya tertarik menulis topik ini? Sebagai orang Jawa, saya termasuk penikmat musik gamelan (meskipun cuma pendengar doang). Sekitar dua bulan terakhir ini saya berkesempatan untuk belajar memainkan gamelan ini. Mungkin anda berpikir : “orang Jawa belajar gamelan.. hm.. biasa aja tuh”. Memang biasa aja kok. Yang tidak biasa adalah, saya yang penggemar gudeg sambel, yang lahir dan besar di Jogjakarta, yang konon kabarnya adalah salah salah satu pusat kebudayaan di Jawa justru berkesempatan “mencicipi” gamelan Jawa di Kalimantan Selatan. Agak unik memang, tapi itulah yang terjadi...

(Dirangkum dari berbagai sumber)


4 comments:

Kang Munandar said...

Suwe suwe menyang KalSel, wekasane dadi dhalang iki..... he.. he..
yo wis sing penting hidup menjadi colorful... yo, ora?

BAKULE GUDEG said...

Betul Kang, asal bukan dalang illegal logging aja.... :-)

Bakule Dolanan Bocah said...

Weh... bakul gudeg anyaran yo... wah ngiras ah! Tinggal dikemonah, sip deh! :^D

Bakule Gudeg said...

Inggih.. monggo mampir...